Tugas Review Jurnal 5 [Mata Kuliah Seminar]

KOMPUTASI AWAN (CLOUD COMPUTING) PERPUSTAKAAN PERTANIAN

Jurnal ini ditulis oleh: Akhmad Syaikhu

Pustakawan Muda pada Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (PUSTAKA)

Perkembangan hasil-hasil penelitian bidang pertanian di berbagai dunia semakin pesat. Hal ini dapat terlihat dari bertambahnya penemuan-penemuan baru yang muncul di bidang pertanian. Media publikasi baik tercetak maupun elektronis pun telah dimanfaatkan dalam upaya penyebaran informasi hasil penelitian tersebut. Hal ini mengakibatkan pengguna dihadapkan pada kondisi serba sulit dalam memilih informasi sesuai dengan kebutuhan. Kondisi yang sudah demikian tentunya kan bertambah kompleks karena disisi lain perkembangan teknologi informasi (TI) dalam segala aspek meningkat begitu pesat. Adanya fenomena tersebut, merupakan tantangan yang cukup besar bagi perpustakaan. Sebagai institusi yang berperan dalam mengumpulkan, mengolah dan menyebarkan informasi tentunya perpustakaan harus aktif dan inovatif dalam memberikan dan menciptakan program layanan yang dapat membantu masyarakat pengguna. Salah satu trend teknologi yang saat ini masih terus digali dalam penelitian-penelitian para pakar IT di dunia, yaitu cloud computing (komputasi awan).

Cloud computing memungkinkan akses data dari mana saja dan menggunakan perangkat fixed atau mobile device menggunakan internet cloud sebagai tempat menyimpan data, aplikasi dan lainnya yang dapat dengan mudah mengambil data, download aplikasi dan

berpindah ke cloud lainnya, hal ini memungkinkan kita dapat memberikan layanan aplikasi secara mobile di masa depan. Tren ini akan memberikan banyak keuntungan baik dari sisi pemberi layanan (provider) atau dari sisi pengguna (user). Konsep penerapan cloud computing di perpustakaan, sehingga di masa yang akan datang perpustakaan sebagai penyedia layanan informasi dapat memberikan layanan yang terbaik, mutakhir dan berkesinambungan kepada penggunanya.

Kehadiran komputasi awan awalnya memang hadir bagi kalangan industri. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi penerapan teknologi ini, antara lain :

  1. Ini adalah sebuah model layanan berbasis Internet untuk menampung sumberdaya sebuah perusahaan. Artinya sebuah perusahaan tak perlu lagi memiliki atau mendirikan infrastruktur lantaran sudah ada perusahaan lain yang menyediakan “penampung” di cloud alias Internet.
  2. Sebuah perusahaan tak perlu lagi mengalokasikan anggaran untuk pembelian dan perawatan infrastruktur dan software.
  3. Perusahaan pun tak perlu memiliki pengetahuan serta merekrut tenaga pakar dan tenaga pengontrol infrastruktur di “cloud” yang mendukung mereka.

National Institute of Standards and Technology (NIST), Information Technology Laboratory memberikan dua buah catatan mengenai pengertian komputasi awan. Pertama, komputasi awan masih merupakan paradigma yang berkembang. Definisi, kasus penggunaan, teknologi yang mendasari, masalah, risiko, dan manfaat akan terus disempurnakan melalui perdebatan baik oleh sektor publik maupun swasta. Definisi, atribut, dan karakteristik akan berkembang dan berubah dari waktu ke waktu. Kedua, industri komputasi awan merupakan ekosistem besar dengan banyak model, vendor, dan pangsa pasar. Definisi ini mencoba untuk mencakup semua pendekatan berbagai awan (Mell & Grance, 2009).

Menurut Furht (2010), teknologi cloud computing memberikan keuntungan sebagai berikut (a) Flexibility, They can decide how much storage space to use, and how much processing power is required. While working to update software applications, the process can be pushed out much faster and more efficiently. Administrators can choose when to update an application enterprise-wide all in real time. It is up to them and how much they want to spend on IT with cloud technology. (b) Scalability, With cloud computing one person can go from small to large quickly. (c) Capital Investment, With cloud computing, many rudimentary IT purchases for things like hardware are no longer an issue as long as that task or set of tasks can be performed by the cloud. (d) Portability, With cloud computing technology, organizations are able to use their computing power wherever their people are as long as users are able to access thin clients. Thin client access is pretty much available everywhere that companies do business today, so this should not even be an issue. With thin client technology the scale of geography and time variation is flattened somewhat and this allows companies that are trying to globally integrate to be able to be more flexible than ever before.         

Teknologi cloud computing tidak serta merta diterapkan begitu saja di perpustakaan. Penerapannya membutuhkan suatu perencanaan yang jelas dan matang jika konsep teknologi tersebut akan diadopsi. Berdasarkan potensi yang dimiliki dan konsep-konsep teori sebelumnya pustaka pperlu memperhatikan beberapa hal sebelum mengaplikasikan teknologi cloud computing antara lain : infrastruktur, keamanan data, dan sumberdaya manusia.

Sebagai penyedia informasi bagi pengguna di lingkup Kementerian Pertanian, maka dukungan infrastruktur yang kuat sangat diperlukan. PUSTAKA dapat melakukan penyewaan jaringan untuk akses internet. Dengan demikian perpustakaan UK/UPT dapat melakukan koneksi ke PUSTAKA dengan baik. Selain itu pula perlu direncanakan layanan Disaster Recovery Center (DRC). Hal ini dibutuhkan untuk mengantisipasi terjadinya gangguan pada pusat data. Konsep DRC antar Sekretariat Badan Litbang Pertanian dan PUSTAKA sedang dalam proses pengembangan. Sekretariat akan menempatkan serverservernya di PUSTAKA sebagai backup demikian juga sebaliknya PUSTAKA akan menempatkan server-servernya di Sekretariat. Hal ini dikarenakan sering terputusnya jaringan internet oleh gangguan alam seperti petir. Kondisi infrastruktur dan arsitektur Sistem Informasi/Teknologi Informasi yang ada.

Keamanan data menjadi begitu penting dalam penerapan cloud computing. PUSTAKA harus dapat menjamin keamanan data dan informasi yang tersimpan dalam servernya. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan para user dalam hal ini perpustakaan UK/UPT yang telah menyimpan data mereka. Terkait dengan keamanan komputasi awan, Olzak (2010) menjelaskan bahwa menilai dan mengelola risiko yang berkaitan dengan layanan awan hanya penyesuaian untuk proses yang ada manajemen risiko.

Melindungi data organisasi merupakan hal yang sangat penting bagi keseluruhan risiko keseimbangan aktivitas organisasi. Analis keamanan melakukan penilaian risiko ketika TI desain dan mengimplementasikan solusi internal. Namun, batas risiko dikelola berhenti di firewall perimeter. Tidak ada proses formal terhadap ancaman model yang dibuat denganmenghubungkan ke awan penyedia layanan.Jalan untuk integrasi komputasiawan yang aman adalah memperpanjang dari batas risiko. Tujuannya untuk memperluas batas kemananan terhadap resiko komputasi awan baik didalam internal maupun eksternal organisasi.

Dengan tersedianya dan terintegrasinya potensi-potensi yang dimiliki pustaka mulai dari tupoksi, jaringan antar lembaga lingkup KEMTAN, sumberdaya informasi, infrastruktur dan SDM tentunya dapat menjadi kekuatan dalam penerapannya. Pustaka memiliki potensi yang cukup besar dalam menerapkan teknologi cloud computing di masa yang akan datang.

Namun tetap diperlukan rencana yang cermat dan menyeluruh mengenai infrastruktur, keamanan data dan sumberdaya manusia. Serta tidak kalah pentingnya adalah dukungan internal dari penentu kebijakan sehingga mempermudah dalam proses tercipatanya layanan komputasi awan perpustakaan pertanian di Indonesia.

Di unduh dari : http://ilkom.journal.ipb.ac.id/index.php/jpi/article/view/1927

Tugas Review Jurnal 4 [Mata Kuliah Seminar]

Perancangan Sistem Apotek Rumah Sakit Berbasis SOA dan Cloud Computing

Jurnal ini ditulis oleh: Luthfi Ramadani

Program Sarjana Sistem dan Teknologi Informasi – STEI ITB

Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam prinsip utama dalam distribusi obat sebagai bagian dari pelayanan kesehatan adalah untuk efisiensi dan kualitas sangat vital karena dapat mengatasi keterbatasan yang dimiliki tenaga medis dan kondisi ruang-ruang unit di rumah sakit.

Masalah muncul saat standar operasional antar rumah sakit di Indonesia tidak sama.. Atas hal ini, pengembangan sistem aplikasi tradisional dilakukan di masing-masing apotek dan tidak menjamin dapat dipakai lagi dengan kesuksesan yang sama di tempat lain.  munculnya web service dalam integrasi sistem, mengemuka terobosan akan penggunaan arsitektur berorientasi service yang menjanjikan orientasi teknologi akan proses bisnis.

Untuk itu, dilakukan penelitian menggunakan konsep service-oriented. Service tersebut dilihat dari sistem umum apotek rumah sakit di Indonesia. Disajikan dengan teknologi yang digunakan saat melakukan implementasi sistem tersebut, yang dalam hal ini dikolaborasikan dengan cloud computing.

Terdapat beberapa pendekatan dalam menemukan kandidat service, di antaranya SOAD (Service-Oriented Analysis and Design), SCA (Service Component Architecure), dan SOMA (Service-Oriented Modeling Architecture). Teori yang ada memiliki keunggulan masing-masing. Di sini mengunakan SOAD karena akan digunakan alur kerja apotek. Tahap awal perancangan sistem berbasis SOA adalah pendeskripsian sistem.

Apotek rumah sakit berfungsi melayani kebutuhan obat resep pasien rumah sakit. Bahan baku obat tersebut dikelola oleh orang/bagian dari apotek sebagai bagian persediaan. Bagian ini bertugas melakukan kontrol persediaan obat. Saat terjadi kekurangan, maka dilakukan koordinasi dengan instalasi farmasi untuk pengadaan obat. Resep yang dibawa oleh pasien direkap oleh apoteker sebagai sumber informasi obat. Seorang apoteker bertugas melakukan pengecekan kesesuaian obat dan berbagai risiko yang ada. Saat diperlukan, apoteker dapat melakukan pembatalan pemberian obat kepada pasien dan kemudian diajukan ke dokter untuk ditinjau kembali.

Dari alur kerja ini, diperoleh fungsi-fungsi bisnis yang ada di apotek serta data yang terlibat. Hasil identifikasi ini menjadi sumber identifikasi kandidat service yang akan dirancang kemudian. Kandidat service yang dihasilkan pada pemetaan tersebut merupakan service fungsional atau diistilahkan business service layer. Selanjutnya, dilakukan analisis service yang merupakan enkapsulasi dari business service tersebut yang dinamakan orchestration service layer. Layer ini merupakan layer teratas yang akan menjadi antarmuka dengan sistem luar. Terakhir, dilakukan analisis kandidat service berupa aplikasi pendukung sistem dan penunjang aktivitas client saat menggunakan aplikasi apotek. Service ini merupakan application service layer.

Identifikasi kandidat service merupakan konsep utama dalam Service-Oriented Architecture. Service yang ada haruslah bersifat otonom dan loosely-coupled sebagai jaminan bahwa aplikasi yang diberikan memang agile dan reusable. Kandidat service tersebut disusun ke dalam kelas-kelas yang akan mengkonsumsi entitas data yang ada di apotek. Entitas data juga dirancang sebagai service dan diimplementasikan dalam web service. Implementasi rancangan sistem apotek dilakukan berdasarkan komunikasi client-server. Server merupakan penyedia services dan konektor ke database. Sedangkan client merupakan workstation apotek yang akan mengakses services.

Services diimplementasikan dengan web services. Teknologi web service yang digunakan adalah REpresentational State Transfer (REST) web service. Teknologi ini merupakan web service yang memberikan identifikasi data di aplikasi web dengan Universal Resource Identifiers (URIs). Adapun antarmuka antara penyedia service dengan pengakses adalah protokol HTTP.

Penggunaan URI sebagai resource dari web service ini dilihat dari format protokol HTTP dan alamat yang diberikan. Sebagai contoh, alamat sub-resource untuk TResep adalah http://localhost:8080/Apotek/resources/tReseps/. Saat client ingin mengakses data resep, maka secara sederhana dilakukan proses retrieve ke alamat URI tersebut. Aplikasi sistem apotek di client merupakan aplikasi web berbasis Java Server Page (JSP), Javascript, dan dokumen web statis berupa HTML dan CSS. Aplikasi ini mencakup proses CRUD (Create, Retrieve, Update, Delete) dari akses ke web service melalui komunikasi HTTP client-server, serta aplikasi pada Application Service Layer yaitu fungsi cetak hasil transaksi, fungsi rekap transaksi per periode, dan fitur keamanan fungsional berupa otentikasi.

Pengembangan sistem apotek dengan SOA dan cloud computing dalam dimodelkan sebagai penerapan private-cloud di apotek rumah sakit HS. Hal ini dilakukan dengan melakukan virtualisasi server yang menjalankan service-service apotek. Penerapan private-cloud merupakan langkah awal dan menjadi model ke depan dalam membangun sistem apotek berbasis SOA dan cloud computing yang lebih luas.

Pada apotek rumah sakit istem berbasis SOA dapat diperoleh dari identifikasi proses dan diturunkan menjadi service-service. Service tersebut masing-masing bersifat otonom sehingga dapat diubah atau dihilangkan tanpa mengganggu sistem lain. Penggunaan cloud computing untuk sistem berbasis SOA sangat sederhana karena keduanya memiliki prinsip komunikasi client-server. Implementasi service dideploy di cloud dan dapat diakses client sebagai application as a service.

Di unduh dari: http://stei.itb.ac.id/jurnal/index.php/stei-S1/article/view/76/0

Tugas Review Jurnal 3 [Mata Kuliah Seminar]

Perancangan dan Implementasi Private Cloud Computing Menggunakan Eucalyptus – Ubuntu Enterprise Cloud

Jurnal ini ditulis oleh: Ibnu Yahya Sumantri, Henry Rossi Andrian, S.T., M.T., dan Robbi Hendriyanto, ST.

Program Studi Teknik Komputer, Politeknik Telkom, Bandung

Jl. Telekomunikasi No.1 Dayeuhkolot Bandung  40257

Internet yang pada awalnya hanya sebagai media pengirim data dan informasi, saat ini mengalami perluasan menjadi semakin berkembang mengikuti bidangnya masing-masing. Internet diharapkan dapat memberikan layanan berupa kemudahan serta kenyamanan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Perpaduan permasalahan tersebutlah yang kemudian mengarah kepada suatu teknologi, yaitu komputasi berbasis internet. Dalam perkembangannya, teknologi komputasi berbasis internet lebih diarahkan kepada proses pengaplikasian sistem yang mudah dan tidak memerlukan banyak waktu atau tenaga. Teknologi yang sudah ada hingga saat ini masih terbatasi oleh ruang, yang tentunya akan memerlukan banyak waktu dan tenaga.

Contoh di bidang pendidikan adalah instansi pada perguruan tinggi. Kebutuhan pengolahan data yang ada sangat tinggi. Data-data tersebut merupakan data yang diolah oleh berbagai divisi dalam instansi tersebut. Data yang diolah dan disimpan pada sistem tersebut semakin lama akan semakin bertambah, sehingga memerlukan tempat penyimpanan atau storage yang besar pula. Penambahan kapasitas ini juga mengakibatkan pekerjaan dan biaya pemeliharaan serta perawatan perangkat kerasnya menjadi bertambah. Bandwidth yang diperlukan untuk proses ini pun tidak sedikit. Oleh karena itu, cloud computing ditunjuk sebagai teknologi yang dapat mengatasi masalah tersebut. Teknologi ini menggabungkan prinsip dasar ekonomi dan peletakan sumber daya komputasi.

Istilah cloud telah digunakan dalam perkembangan dunia Internet, karena Internet bisa digambarkan sebagai sebuah awan besar. Penggunaan istilah ini awalnya digunakan untuk gambaran umum sebuah jaringan besar/backbone yang berupa awan, yang sebenarnya berisi sekumpulan komputer yang saling terhubung. Konsep ini dikenalkan pada awal 1961, ketika Profesor John McCarthy menyatakan bahwa “teknologi komputer time-sharing mungkin akan berkembang di masa depan, dimana kemampuan komputasi dan aplikasi spesifik mungkin dapat dijual melalui model bisnis berdasarkan tipe utilitas”. Baru pada sekitar tahun 2008 awal teknologi ini muncul kembali dan masih banyak perbedaan pendapat serta pemahaman mengenai cloud computing. Semua menjadi sangat jelas saat ini sehingga memaksa para profesional TI untuk dapat beradaptasi dengan cepat dalam mengimplementasikan cloud computing.

Cloud computing sendiri adalah sebuah model komputasi, dimana sumber daya seperti daya komputasi, penyimpanan, jaringan dan perangkat lunak disediakan sebagai layanan di internet [10]. Cloud computing juga dapat dikatakan sebuah “mekanisme” yang memungkinkan pengguna “menyewa” sumber daya teknologi informasi melalui internet dan memanfaatkan dan membayar sesuai dengan layanan yang digunakan saja. Dengan konsep ini, maka semakin banyak orang yang bisa memiliki akses dan memanfaatkan sumber daya tersebut, tanpa harus melakukan investasi besar-besaran.

Ada beberapa model penyebaran dari cloud computing yang dapat diterima oleh para stakeholder saat ini dan diakui oleh National Institute of Standards and Technology (NIST) :

1. Public Cloud

Public cloud merupakan sebuah model layanan cloud yang disediakan oleh provider dan ditujukan untuk layanan public/masal. Mekanisme public cloud adalah sebuah utilitas berbasis bayar yang disesuaikan dengan penggunaan. Resource dari cloud ini dihosting di tempat penyedia layanan, mulai dari aplikasi hingga media penyimpanan/storage. Contoh dari public cloud yang populer adalah Amazon AWS (EC2, S3 dll), Rackspace Cloud Suite, dan Microsoft’s Azure Service Platform.

2. Private Cloud

Private cloud dibangun, dioperasikan, dan dikelola oleh sebuah organisasi untuk perusahaan penggunaan/keperluan internal untuk mendukung operasi bisnisnya secara eksklusif. Mulai dari masyarakat umum, perusahaan swasta, hingga organisasi pemerintah di seluruh dunia yang mengadopsi model ini untuk mengeksploitasi manfaat cloud seperti fleksibilitas, pengurangan biaya, kecepatan dan sebagainya.

3. Community Cloud

Community cloud terbagi menjadi beberapa organisasi dan mendukung komunitas tertentu yang telah berbagi kepentingan misalnya misi, persyaratan keamanan, kebijakan, dan pertimbangan. Community cloud dikelola oleh sebuah organisasi atau pihak ketiga dan mungkin oleh anggota aktif. Salah satu contoh dari Community Cloud adalah OpenCirrus, yang dibentuk oleh HP, Intel, Yahoo, dan lainnya.

4. Hybrid Cloud

Hybrid cloud merupakan infrastruktur yang terdiri dari dua atau lebih cloud (private, community, atau public). Jadi, Hybrid cloud adalah infrastruktur cloud berupa gabungan dari beberapa cloud yang ada.

Layanan model Cloud secara umum dibagi menjadi tiga kategori menurut definisi NIST:

1. Infrastructure as a Service (IaaS)

Sistem memberikan layanan kepada konsumen berupa Aplikasi yang dapat diakses dari berbagai perangkat klien. Konsumen bisa menggunakan thin client, atau web browser sebagai interface/antarmukanya.

2. Platform as a Service (PaaS)

Sistem PaaS mengijinkan pengguna menggunakan aplikasi dan bahasa pemrograman yang disediakan oleh sistem serta menyimpan data-data di dalam sistem cloud computing, tentunya dengan menggunakan API provider. Google Apps merupakan salah satu yang paling terkenal sebagai penyedia PaaS.

3. Software as a Service (SaaS)

SaaS merupakan perangkat lunak yang berbentuk layanan/service. Dalam hal ini provider memungkinkan pelanggan hanya untuk menggunakan aplikasi tersebut (aplikasi yang disewa). Perangkat lunak ini berinteraksi dengan user melalui user interface. Aplikasi ini dapat berupa email berbasis web, aplikasi seperti Twitter atau Last.fm.

Ubuntu merupakan salah satu distribusi sistem operasi berbasis linux yang dikembangkan dari linux Debian. Ubuntu server memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh distribusi linux lainnya, yaitu meluncurnya versi terbaru ubuntu setiap enam bulan sekali yang disertai paket-paket aplikasi terkini juga penggunaan kernel linux terbaru. Sistem operasi Ubuntu Server dapat dipasang pada beberapa tipe arsitektur komputer diantaranya Intel X86, AMD64, ARM, SPARC, PowerPC, Itanium64 bahkan pada Playstation3. Eucalyptus sebagai pendukung cloud ini juga ikut ditingkatkan.

Elastic Utility Computing Architecture for Linking Your Programs To Useful Systems atau Eucalyptus adalah sebuah perangkat lunak dibawah General Public License (GPL) yang berbasis open source yang mendukung perkembangan cloud computing baik private maupun public cloud. Eucalyptus juga menyertakan sistem Amazon Web Services API (EC2, S3, EBS) dan dukungan untuk menggunakan Xen dan KVM (Konqueror Virtual Machine) server. Eucalyptus mengimplementasikan model layanan Infrastruktur as a Service atau IaaS.

Hal yang paling penting dibalik cloud computing adalah skalabilitas, dan teknologi yang memungkinkan untuk menerapkannya adalah virtualization/virtualisasi. Virtualisasi, dalam arti luas adalah emulasi dari satu atau lebih workstation/server dalam satu komputer fisik tunggal. Sederhananya, virtualisasi adalah emulasi dari hardware di dalam sebuah perangkat lunak. Hal ini memungkinkan satu komputer untuk mengambil peran beberapa komputer. Ada empat tujuan utama penggunaan virtualisasi yang menjadi nilai tambah untuk sebuah organisasi:

1. Meningkatnya penggunaan sumber daya perangkat keras.

2. Mengurangi biaya manajemen dan sumber daya.

3. Meningkatkan fleksibilitas bisnis.

4. Peningkatan keamanan dan mengurangi downtime.

Jenis Virtualisasi

Banyak sekali jenis dari teknologi virtualisasi yang telah diperkenalkan dalam dunia komputerisasi dan disesuaikan dengan kemampuan serta kebutuhannya. Secara umum ada dua jenis virtualisasi yang berhubungan dengan sistem cloud, yaitu full virtualization dan paravirtualization.

Kebutuhan Sistem

Implementasi private cloud computing pada Proyek Akhir ini menggunakan sistem operasi Ubuntu 11.04 Server versi UEC serta perangkat lunak Eucalyptus. Ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan untuk kebutuhan perangkat kerasnya.

1) Front End

Secara keseluruhan Front End meliputi bagian-bagian berikut, diantaranya adalah :

a)      Cloud Controller (CLC)

b)       Cluster Controller (CC)

c)      Walrus (S3-Simple Storage Solution)

d)      Storage Controller (SC)

 

2) Node

Pada bagian Node hanya terdiri dari Node Controller (NC).  Seluruh komponen eucalyptus tersebut dikonfigurasi sesuai dengan kelompok yang telah ditetapkan.

Pengujian dilakukan dengan mengakses server melalui client. Pengaksesan dilakukan menggunakan web browser dan disarankan untuk menggunakan Mozilla Firefox. Penggunaan browser Mozilla firefox dikarenakan firefox memiliki plugin yang dapat digunakan untuk memudahkan konfigurasi pada eucalyptus. Web browser akan digunakan untuk melakukan login hingga menjalankan image yang disediakan oleh cloud server. Kemudian pengujian terhadap layanan storage yang akan diberikan kepada client. Pengujian storage berupa penyimpanan data hingga percobaan instalasi aplikasi ke storage tersebut. Selain itu juga dilakukan analisis terhadap performansi bandwidth/throughput. Pengamatan terhadap besarnya bandwidth aktual untuk sistem ini dilakukan pada bagian front end sisi client. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kebutuhan bandwidth yang diperlukan oleh satu buah client yang mengakses sistem ini. Selanjutnya adalah analisis terhadap delay saat client mengakses sistem ini.

Pengujian terhadap sistem yang telah dikerjakan yaitu dengan mengakses server melalui web browser dan terminal pada client menggunakan sistem operasi ubuntu desktop. Sebelum user lain dapat menggunakan seluruh fasilitas yang ada, admin sebagai user tertinggi harus mempersiapkan segala kebutuhan yang akan digunakan nantinya.

Dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :

  1. Eucalyptus merupakan salah satu framework perangkat lunak berbasis Open Source yang mendukung perkembangan Cloud Computing baik private maupun public, dengan mengimplementasikan Infrastructure As Service atau IaaS. Infrastruktur yang dimaksud berupa sebuah sistem operasi yang diperuntukan dalam kebutuhan baik server jaringan maupun penggunaan user biasa.
  2.  Sumber daya untuk kebutuhan hidup setiap instances secara minimal adalah satu core dari processor yang digunakan oleh server node controller. Jadi banyaknya instances tergantung dari banyaknya node controller dan jumlah core dari setiap node controller. Dengan demikian sebuah perangkat node dapat disediakan untuk beberapa pengguna sehingga mengurangi kebutuhan hardware yang dapat memakan ruangan.
  3. Private cloud yang dibangun menggunakan eucalyptus ubuntu enterprise cloud dapat digunakan sebagai ujicoba/study pengembangan sistem dengan perangkat yang terjangkau.

Di unduh dari: http://opencourseware.politekniktelkom.ac.id/index.php/Proyek-Akhir-Mahasiswa/TK/JURNAL-PA-PERANCANGAN-DAN-IMPLEMENTASI-PRIVITE-CLOUD-COMPUTING-MENGGUNAKAN-EUCALYPTUS-UBUNTU-ENTERPRIES-CLOUD

Tugas Review Jurnal 2 [Mata Kuliah Seminar]

PENGEMBANGAN CLOUD BOOSTER DENGAN KOMBINASI FTR-HTTP UNTUK PENINGKATAN KECEPATAN AKSES PADA LAYANAN CLOUD COMPUTING

Jurnal ini ditulis oleh: Sinung Suakanto, Suhono H. Supangkat, dan Suhardi

Departemen Teknik Elektro, Institut Teknologi Harapan Bangsa

Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung

Jl. Dipati Ukur no. 80-84 Bandung 40132, Jl. Ganesha 10 Bandung

Cloud computing atau komputasi awan merupakan metode komputasi berbasis jaringan yang membangun sebuah sistem dimana komputasi dan sumber daya tidak lagi dikerjakan atau disimpan di perangkat lokal,  tetapi sumber daya dan pusat komputasi dilakukan di sebuah sistem yang berada di awan internet. Cloud computing dari segi arstitektur berfokus pada penggunaan virtual machine (VM). Dengan mengunakan VM diharapkan dapat meningkatkan isu efisiensi karena VM dapat dipanggil atau diterminasi sesuai dengan kebutuhan. Komunikasi pada infrastruktur cloud merupakan komunikasi antar beberapa komponen cloud (cloud controller, node controller) menggunakan jaringan lokal atau private network.

Sebuah metode untuk menjaga kualitas layanan untuk penggunaan aplikasi layanan cloud computing sedang dikembangkan, salah satunya adalah untuk menjaga bahwa rata-rata nilai response time harus diatas nilai tertentu. Metode yang dikembangkan adalah menggunakan metode FTR-HTTP (Finite Time Response-HTTP) yang merupakan metode untuk menentukan bahwa response time yang diharapkan harus diatas nilai tertentu. Konsep FTR-HTTP secara umum mengusulkan sebuah metode sederhana untuk penjaminan kualitas pada layanan internet TCP/IP tanpa harus mengubah perangkat atau konfigurasi jaringan yang ada. Teknik yang diusulkan pada penelitian ini adalah menambahkan mekanisme pembatasan berupa blocking pada protokol HTTP. Blocking dapat dijelaskan menggunakan persamaan 1. Jika didefinisikan Pt +1 sebagai proses atau permintaan dari pengguna pada web client pada waktu t+1 (selanjutnya) dan 1 menyatakan sebuah kondisi nonblocking dan 0 merupakan sebuah kondisi blocking.

Metode FTR-HTTP ini diharapkan dapat menjaga kualitas layanan pada pengguna terutama jika pengguna adalah dalam jumlah banyak dan tersebar secara geografis. Dengan menggunakan teknik blocking maka diharapkan beberapa akses dari segmen pengguna tertentu akan mendapatkan jaminan kualitas dengan memberikan prioritas bagi pengguna dengan performansi yang cukup baik.

Beberapa metode untuk layanan Cloud Computing atau mekanisme untuk menjaga atau meningkatkan kualitas cloud computing dan sejenisnya juga telah mulai diteliti dan dikembangkan. Dimulai dari pengembangan QoSAware yang digunakan untuk menjamin pelaksanaan komputasi pada system cluster, yang merupakan pendahulu dari teknologi sistem cloud computing. Konsepnya diadopsi untuk cloud computing mengingat beberapa arsitektur yang memiliki kesamaan dan diangkat menjadi konsep QoS-aware cloud.

Pada QoS-aware lebih menekankan pada pengukuran kinerja dan proses penjaminan agar kualitas yang diberikan adalah sesuai dengan kualitas yang diharapkan. Untuk setiap permintaan HTTP, dimana response time dari cluster masih memenuhi SLA yang ditetapkan maka tidak perlu melakukan konfigurasi ulang cluster. Arsitektur Penjaminan Kualitas pada Cloud menggunakan FTR-HTTP.  Arsitektur ini lebih menonjolkan penggambaran model penjaminan kualitas pada sisi server. Arsitektur yang dikembangkan mempunyai beberapa komponen seperti :

1.      Configuration Services

Komponen ini berfungsi untuk mencatat profil SLA untuk setiap masing-masing profil pengguna.

2.      Monitoring Services

Komponen ini berfungsi untuk memonitoring performansi dari eksternal dan internet. Terdapat 2 kategori yaitu :

a. External Monitoring Services: Untuk memonitor dan mencatat performansi dari masing-masing user. Di antaranya untuk mencatat sejarah performansi dari client yang dikerjakan oleh FTR-Performance Monitoring Services. Sedangkan untuk blocking dari client dicatat oleh Blocking Administrative Services.

b. Internal Monitoring Services: Untuk memonitor dan mencatat performansi internal yang berfokus pada performansi dari Virtual Machine (VM).

3.      Decission Services

Komponen ini berfungsi sebagai sistem pengambil keputusan yang secara otomatis melihat penurunan performansi dan melakukan aksi-aksi apa saja yang diperlukan untuk menjaga performansi tersebut.

Cloud Booster dan Model Pengembangannya

Arsitektur penjaminan kualitas pada cloud pada bahasan sebelumnya merupakan arsitektur penjaminan kualitas yang lebih terutama dikembangkan pada bagian server. Untuk bagian client, perlu juga dibangun sebuah metode atau teknik untuk peningkatan kualitas. Salah satu teknik atau metode yang diusulkan adalah menggunakan cloud booster. Cloud booster merupakan istilah atau nama yang diperkenalkan sebagai sebuah service atau middleware untuk meningkatkan performansi atau kinerja aplikasi cloud computing [8]. Cloud booster ini menggunakan konsep cache atau web

Caching. Secara umum sebuah aplikasi terdiri dari beberapa hal seperti :

• Komponen

Sebagai contohnya adalah komponen

pendukung tampilan (CSS), komponen pendukung interaksi (javascript), dan sebagainya

Resource : Image, File

• Data-data yang ditransasikan

Untuk mengurangi lalu lintas data atau paket data yang dikirimkan ke cloud server maka data-data yang ditransaksikan dari client ke server hanya important data yaitu data-data yang berubah dengan cepat atau perlu diperbaharui ke server. FTR-Client Manager berfungsi sebagai pengendali bahwa sebuah permintaan apakah dilanjutkan atau diblok sesuai dengan kriteria bloking yang ada. Algoritma blocking sudah diuraikan sebelumnya pada bagian atas. Adapun data-data komponen dan resouce sudah ditempatkan pada sebuah sistem cache atau tempat penampungan data-data atau komponen historis. Dengan penggunaan pendekatan ini diasumsikan bahwa komponen, resouce tersebut tidak mengalami perubahan-perubahan data yang cepat. Contohnya untuk aplikasi-aplikasi yang berbasis Web (HTTP) atau Web Service dapat menggunakan konsep seperti ini.

Komponen-komponen yang setiap digunakan memiliki fungsi yang sama tidak perlu diminta lagi ke server. Untuk memperbaharui komponen-komponen atau resource tersebut dapat dilakukan tidak disertakan pada request per user tetapi bisa dijadwalkan secara periodik. Untuk mengurangi lalu lintas data maka komponen dan/atau resouce dapat didownload atau diperbaharui secara periodik.

Jika aplikasi atau layanan cloud computing bertipe layanan yang membutuhkan interaksi tinggi maka delay atau response time antar halaman atau antar transaksi sangat sensitif. Sehingga dengan menggunakan konsep cache ini diharapkan dapat menurunkan delay atau response time dari client ke server.

Di unduh dari: http://dspace.library.uph.edu:8080/handle/123456789/1027

Tugas Review Jurnal 1 [Mata Kuliah Seminar]

ANALISIS KELAYAKAN EKONOMIS CLOUD COMPUTING PADA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DI INDONESIA DENGAN METODE RANTI’S GENERIC IS/IT BUSINESS VALUE DAN ECONOMIC VALUE ADDED: STUDI KASUS PADA BANK PERKREDITAN RAKYAT DI JAKARTA

Jurnal ini ditulis oleh: Pamela Darmadji dan Benny Ranti

Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia

Kampus UI Depok, Jawa Barat, 16424, Indonesia

Bank Prekreditan Rakyat merupakan salah satu jenis bank yang melayani golongan pengusaha mikro, kecil, dan menengah. Kondisi yang ada saat ini adalah banyak Bank Perkreditan Rakyat di Indonesia yang masih belum menggunakan teknologi yang ada untuk membantu proses bisnisnya, sehingga Bank Perkreditan Rakyat memiliki keterbatasan dalam mewujudkan tujuannya yaitu untuk membantu memajukan keuangan mikro di Indonesia. Solusi yang cukup murah dan efisien pada penerapan TI pada Bank Perkreditan Rakyat untuk dapat menunjang aktivitasnya saat ini adalah dengan pengimplementasian cloud computing. Layanan cloud computing ini tergolong cukup murah karena layanan ini menggunakan mekanisme economies of scale, dimana semakin banyak yang ikut menggunakan layanan tersebut, maka semakin baik dan murah.

Sebagai contoh, aplikasi cloud computing berbasis PAAS, yaitu e-UKM, dimana aplikasi ini digunakan oleh Bank Perkreditan Rakyat sebagai sistem pengelolaan koperasi pendidikan dan lainnya. Bank Perkreditan Rakyat memiliki sistem yang lebih kompleks dibandingkan dengan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) lain (misalnya memiliki tabungan, dimana LKM lain tidak memiliki layanan tabungan). Bank Perkreditan Rakyat memiliki tabungan dan akun bank untuk rakyat, sehingga akan lebih memudahkan dalam mengelola sistem, sudah terdapat regulasi yang jelas mengenai Bank Perkreditan Rakyat, dan walaupun jumlah Bank Perkreditan Rakyat yang cukup banyak dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia, namun tetap memiliki karakteristik yang sama.

Hasil analisis kebutuhan Bank Perkreditan Rakyat akan teknologi menunjukkan adanya kebutuhan dari sisi core banking system, Channel System, Payment Points & Collection, dan Management Information System (MIS).

Cloud computing merupakan bentuk online dari grid computing dan merupakan penerapan konsep komputasi terdistribusi yang lebih diarahkan pada jaringan internet. Terdapat tiga macam pemodelan layanan dari cloud computing yaitu infrastructure as a service (IaaS), platform as a service (PaaS), dan software as a service (SaaS). Pada IaaS, beberapa server yang diletakkan dalam cloud dengan alamat IP yang unik dan sejumlah harddisk untuk menyimpan data. Pengguna menggunakan Application Program Interface (API) untuk dapat mengakses, menyalakan dan mematikan, serta mengkonfigurasi virtual server dan harddisk. PaaS pada cloud didefinisikan sebagai perangkat lunak yang terhubung pada infrastruktur penyedia jasa layanan cloud computing. Pada SaaS, penyedia jasa memasok infrastruktur berupa perangkat keras, produk perangkat lunak, dan berhubungan dengan pengguna melalui portal front-end. SaaS memiliki pasar yang sangat luas.

Metode EVA merupakan salah satu pengukur kinerja perusahaan yang mencoba mengukur nilai tambah yang dicapai perusahaan yang dihitung dengan cara mengurangi biaya modal dari laba usaha setelah pajak sebelum beban bunga (net operating after tax). Metodologi EVA digunakan untuk mengukur tingkat kelayakan finansial dalam investasi TI yang akan dilakukan. Pengukuran EVA yang positif menandakan bahwa investasi tersebut memberikan nilai bagi perusahaan. Sebaliknya, nilai EVA yang negatif menunjukkan bahwa nilai perusahaan menurun karena tingkat pengembalian investasi tersebut yang rendah dibanding dengan modal yang dikeluarkan, atau bahkan merugi.

Penelitian ini menerapkan kedua metode Ranti’s Generic IS/IT Business Value dan EVA. Hasil perhitungan kuantifikasi yang didapat melalui Ranti’s Generic IS/IT Business Value akan menjadi masukan pada perhitungan nilai EVA. Selain itu dilakukan juga suatu analisis tambahan yang berguna untuk mendukung hasil yang didapat dari perhitungan dengan menggunakan metodologi sebelumnya. Baik dari perbandingan nilai investasi maupun perbandingan nilai EVA.

Pengimplementasian investasi cloud computing pada Bank Perkreditan Rakyat yang dilakukan meliputi jenis IaaS dan SaaS. Untuk implementasi awal Bank Perkreditan Rakyat tidak perlu melakukan apa pun, dengan asumsi secara infrastruktur, Bank Perkreditan Rakyat sudah memiliki koneksi internet. Implementasi ini memungkinkan beberapa Bank Perkreditan Rakyat untuk terkoneksi ke cloud yang sama. Pola pemikiran jangka panjangnya adalah untuk mengintegrasikan beberapa Bank Perkreditan Rakyat dalam satu lokasi (misalnya) dimana nantinya terdapat Bank Payung yang memayungi setiap Bank Perkreditan Rakyat tersebut, serta membantu Bank Perkreditan Rakyat dalam kegiatan operasionalnya.

Dari hasil analisis dan wawancara dengan pihak Bank Perkreditan Rakyat, dari 73 manfaat yang ada dalam Ranti’s Generic IS/IT Business Value, terdapat 39 manfaat yang relevan terhadap pengimplementasian cloud computing pada Bank Perkreditan Rakyat. Beberapa manfaat yang bersifat redundan dan memiliki kriteria yang sama dapat memiliki perhitungan kuantifikasi yang sama. Manfaat-manfaat tersebut kemudian dikelompokkan menjadi enam kategori manfaat, dimana pembagian kategori manfaat dilakukan berdasarkan kuantifikasi dari masing-masing manfaat yang diidentifikasikan. Keenam kategori manfaat tersebut adalah peningkatan pendapatan karena peningkatan mutu layanan, peningkatan pendapatan karena minimalisasi resiko keterlambatan pengumpulan laporan ke BI, peningkatan pendapatan karena minimalisasi resiko piutang tak tertagih,p eningkatan pendapatan karena peningkatan kualitas laporan, peningkatan pendapatan karena peningkatan kapasitas bisnis, serta peningkatan pendapatan karena minimalisasi biaya operasional. Kuantifikasi dilakukan dengan memperhitungkan fakta, informasi, dan asumsi yang bisa diambil dari hasil wawancara dan diskusi dengan nara sumber. Perhitungan dibagi menjadi dua, yaitu kualitatif, untuk perhitungan yang saat ini belum bisa dihitung secara kuantitatif karena faktor keterbatasan waktu maupun tingkat kompleksitas yang tinggi, dan kuantitatif, perhitungan nilai manfaat. Syarat utamanya hanya koneksi jaringan internet yang stabil untuk dapat terhubung dengan jaringan cloud penyedia jasa. Sedangkan koneksi internet sudah terpasang sebelumnya sehingga tidak lagi diperlukan investasi awal untuk jaringan. Biaya operasional merupakan asumsi biaya operasional sehari-hari setelah dilakukan investasi. Asumsi diambil berdasarkan rata-rata biaya operasional yang dikeluarkan oleh Bank Perkreditan Rakyat dikurangi total rata-rata persentase penurunan biaya karena adanya arsitektur cloud computing. Total biaya operasional Bank Perkreditan Rakyat adalah sebesar Rp 977,118,833,-.

Analisis perbandingan investasi ini dilakukan sebagai analisis tambahan untuk mendukung analisis manfaat dan perhitungan EVA yang sudah dilakukan dalam mengkaji manfaat ekonomis investasi sistem cloud computing. Perbandingan dilakukan dengan dua skenario. Skenario A, Bank Perkreditan Rakyat melakukan investasi infrastruktur biasa (client – server). Skenario B, Bank Perkreditan Rakyat melakukan investasi cloud computing. Setiap skenario terdiri dari dua bagian besar yaitu nilai investasi yang harus ditanamkan dan biaya pemeliharaan (maintenance) yang harus dikeluarkan selama lima tahun setelah investasi dilakukan. Perhitungan dihitung secara detil dengan memperhitungkan asumsi 30% untuk biaya pemeliharaan pada tahun pertama, dan 25% untuk biaya pemeliharaan untuk tahun-tahun berikutnya. Harga cloud computing sendiri seharga $11 per akun, dengan perhitungan nilai kurs sebesar Rp 8.900,-, sehingga nilainya dalam rupiah adalah sebesar Rp 97.900,-. Rincian perbandingan nilai investasi pada skenario A dan B dapat dilihat pada tabel II.

Pada skenario A, tren biaya pemeliharaan secara nominal semakin besar, namun jika dibandingkan dengan jumlah biaya yang semakin meningkat, hal ini membuat infrastruktur yang telah diimplementasi semakin ekonomis. Sedangkan pada skenario B, biaya meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah akun, namun tetap pada nilai yang sama. Hal ini menjadikan skenario B sudah ekonomis sejak pertama kali diimplementasi. Biaya pemeliharaannya pun lebih kecil dibandingkan dengan skenario A walaupun perbedaannya tidak terlalu signifikan.

Analisis perbandingan juga dilakukan untuk membandingkan nilai EVA terhadap masing-masing skenario. Berdasarkan hasil perhitungan. Nilai EVA pada skenario B lebih tinggi dibandingkan dengan nilai EVA pada skenario A, hal ini menunjukkan bahwa investasi pada skenario B lebih ekonomis dibandingkan dengan investasi pada skenario A. Hasil analisis ini memperkuat gagasan bahwa implementasi cloud computing memang memiliki manfaat lebih bagi Bank Perkreditan Rakyat dan layak untuk di implementasi.

Menggabungkan metode EVA dan Ranti’s Generic IS/IT Business Value’s Generic IS/IT Business Value sangat memudahkan dalam melakukan kajian manfaat ekonomis dari suatu investasi TI. Dari hasil yang didapat pada analisis perbandingan, terlihat bahwa walaupun kedua investasi tersebut sama-sama ekonomis, namun nilai sistem cloud computing tetap lebih ekonomis daripada investasi infrastruktur biasa. Dari hasil yang didapat melalui perhitungan kuantifikasi Ranti’s Generic IS/IT Business Value, EVA, dan analisis perbandingan, dapat dilihat bahwa implementasi cloud computing layak untuk diterapkan pada Bank Perkreditan Rakyat.

Di unduh dari: http://jsi.cs.ui.ac.id/index.php/jsi/article/viewArticle/299